Menikmati Reyog Ponorogo di Ancol
Huh… Akhirnya bisa menulis lagi setelah satu bulan tertidur dalam dunia contreng-mencontreng di blog ini. Dalam contrengan pertama ini, saiya kembali membawa Reyog Ponorogo sebagai bahan tulisan. Karena membicarakan Reyog memang selalu menarik.
Sabtu (7/3) siang cuaca panas menyelimuti Kota Bogor berbeda dari hari biasanya yang terus dihinggapi mendung dan hujan. Perjalanan dari Dramaga menggunakan tiga sepeda motor berjalan lancar meskipun sampai Jalan Soleh Iskandar harus berakrab ria dengan debu asap kendaran karena memang saat itu terjadi kemacetan yang cukup membuat bensin terkuras.
|
|
Tak lama kemudian, kami sampai di Ciluer salah satu desa di Kab. Bogor untuk bertemu dengan salah satu tokoh Reyog di Bogor dan sekaligus pelatih Reyog pada pementasan Reyog di IPB kemarin. Di rumah sederhana milik Mbah Kasmun (Klo gak salah ingat) ini nampak suasana ke Ponorogo-an sangat kental, di teras ada sebuah gong yang tertutup dengan kain. Kemudian melengok kedalam sudah disambut dengan sebuah kepala dhadak merak yang menyapa kami dengan wajah garangnya. Ternyata di rumah ini juga terdapat dua lagi kepala reyog yang ditaruh di atas lemari. Keluarga sederhana ini telah berkecimpung di dunia reyog kurang lebih 25 tahun. Sebuah waktu yang bisa dikatakan cukup panjang, untuk ukuran penggiat reyog di luar kota Ponorogo. Jiwa Reyog Mbah Kasmun ini menular ke menantunya yang biasa kami sebut Mas Heru.
Lulusan Teknik Mesin Universitas Ibnu Khaldun ini meskipun masih muda sangat berpengalaman sebgai pelatih Reyog. Selain bisa melatih, pria yang sudah dikarunai satu orang putra ini juga mahir dalam mengiringi pertunjukan Reyog.
Obrolan kami berlanjut tentang rencana Paguyuban Reyog yang ada di Bogor berencana untuk turut ambil
bagian di Festival Reyog Nasional selanjutnya. Sebuah keinginan yang cukup membuat saiya bergetar, dimana dengan umur yang setahun lagi mendekati kepala enam masih terus berupaya melestraikan reyog. Sempat juga saiya menyampaikan kabar duka dari Ponorogo mengenai meninggalanya salah satu sesepuh Reyog Ponorogo, Pak Heru Subeno.
Sekitar setengah jam berada disini perjalan kami lanjutkan ke Pabrik Indocement, karena memang pabrik semen ini tujuan kita agar bisa sampai ke Ancol. Dalam perjalanan, kami harus bertemu dengan hujan yang cukup lebat sehingga pakaian yang saiya pakai basah sampe dalem2nya juga…
Setelah hampir satu jam perjalanan ditambah berteduh di salah satu mini market, akhirnya tiba juga di pabrik Indocement. Disana telah menunggu orang-orang berpakaian hitam-hitam khas rasa Ponorogo. Menunggu sekita setengah jam, dengan menggunakan dua bus berkapasitas sekitar 50-an orang berangkat meninggalkan pipa-pipa besar pabrik.

Tak lama duduk di bus yang penuh dengan peralatan Reyog (gak merasa lama, ya iyalah lha wong saiya tertidur) akhirnya sampai juga di Ancol. Saat itu sekitar 5 sore. Semua peralatan dari bus diturunkan dan langsung di bawa ke Pasar Seni Ancol. Para penari yang dipandu mas Heru langsug melakukan blockig panggung dan sekaligus sebagai gladi bersih sebelum pementasan yang direncanakan pukul 7 malam.
Pertunjukan Reyog ini dalam rangka pembukaan Festival Campursari Sejabodetabek yang diselenggarakan oleh Pawarta (Paguyuban Jawa Timur-Jakarta). Namun, sayang sekali event budaya ini terlihat kurang siap mulai dari peserta yang berjumlah kurang dari sepuluh orang. Selain itu, saiya juga tak melihat bagian dokumentasi yang mengabadikan momen ini, meskipun saat itu pula hadir Walikota Jakarta Utara.
Sekitar pukul 7 malam acara dibuka dengan penampilan Reyog Ponorogo. Di awali dengan Warok yang berpakain hitam dan klor saktinya mempertunjukkan kemampuannya. Diiringi tipun terompet dan kendang para penari warok menyuguhkan tontonan yang membuat penonton berdecak kagum. Setelah, warok muncul Jathil dengan tarian rancaknya memberikan warna tersendiri bagi pertunujukan kemarin malam. Selain para penari yang masih imut-imut, kerana masih duduk di bangku SMP dan juga beberapa ada yang masih duduk di sekolah dasar.
Pujangganong, tokoh yang menggambarakan patih sakti ini membuat penonton harus maju mendekati lokasi. Karena selain lincah dan akrobatik. Pujangganong juga sering mempertontonkan perilaku yang konyol dan membuat penonton tertawa. Setelah pujanggaong, muncul Prabu Klonosewandhono yang berjalan dengan gagahnya. Kemunculan Prabu dari kerajaan Bantarangin ini merupakan sentral dari cerita Reyog Ponorogo. Dikisahkan Prabu Klonosewandhono harus bertarung dengan Singo Barong (Dhadak Merak) untuk bisa merebut putri cantik dari Kediri.
Hampir 45 menit menghibur penonton penampilan Reyog Ponorogo yang didukung sepenuhnya oelh Indocement berakhir sudah. Pertunujan singkat ini mendapat applaus penonton yang memadati pinggir panggung. Sebelum menggalkan lapangan, wali kota Jakarta Utara di daulat untuk duduk diatas kepala Reyog. Dengan wajah mringis pertanda agak takut. Walikota yang baru dilantik ini dibawa dari tempat duduknya ke panggung untuk membuka festival ini.
Selesai ahh….







Mruput paklik.. Sehat to?
[Reply]
budhal!
denologis’s last blog post..Reyog atau Reog?
[Reply]
kapan ke jogja
[Reply]
wah keren….masih ada klaim malaysia seperti dulukah?
abee’s last blog post..tugas dan kewajiban guru
[Reply]
muanteb..
gajah_pesing’s last blog post..Public Relation
[Reply]
wah makin eksis aja mas reognya. tapi mungkin lebih eksis kalo yang mainin reog itu mas willy. piye mas setuju ga. oya teman teman setuju kan kalo yang main reog mas willy? heheh
adi dzikrullah’s last blog post..8 Juta untuk Satu Orang
[Reply]
reyog memang hebat…!
petruk’s last blog post..Embah, jangan sedih
[Reply]
wah, asyik-asyik
arifudin’s last blog post..3gp Free download
[Reply]
Memang benar2 asyik ya
[Reply]
Budayakan saling mengunjungi…
Mr. Isanputra’s last blog post..Refresing to Hi-TECH Mol sby.
[Reply]
Weh.. keren kang..
azaxs’s last blog post..Saatnya Jendral Nagabonar memimpin
[Reply]
@Petruk, arifudin, M. Insanputra, azaxs:
Reyog memang menarik untuk dibicarakan maupun untuk dilihat.
Lestari untuk kebudyaan bangsa!!!
[Reply]
sip cakep bener
meylya’s last blog post..Award Pertama di Meylya.com
[Reply]
jadi inget adikku, dia seneng banget ama reog sejak kecil
[Reply]
keren kang
dafhy’s last blog post..Timpukan itu
[Reply]
@meylya: Saiya memang cakep mbak
@jiban: kapan2x adiknya bisa di ajak k Ponorogo Om, biar bisa maen Reyog
@dafhy: Sekali lagi saiya memang keren mas…
Wongbagoes’s last blog post..Menikmati Reyog Ponorogo di Ancol
[Reply]
jian tenan, nyang ancol kok ga mampir gubuk ke mbakyune tho dik?
[Reply]
ooooowwwwwwww sampean yow bar cuti coret coret ta sama nuhhhhh????
pikir tak pikir sampean sing ngreyog mas????
dinda_cute’s last blog post..Unlimited Tracks
[Reply]
reyog seru ya…
[Reply]
ohh ada juga yah reog ponorogo di ancol..
jadi inget kalo di rumah dulu setiap ada perayaan selalu ada reog ponorogo..
FaLLa’s last blog post..seven pounds
[Reply]
koe dadi opone cak?
[Reply]
salam kenal
wah sebuah atraksi buday yang asyik
bisa tukeran link?
tx
Blogger Senayan’s last blog post..Update Pagerank Google Akhirnya Eksekusi Shalimow.com
[Reply]